Tanda Tangan Trump di Uang Kertas Dolar AS Jadi Fakta Sejarah
Di tengah perayaan menuju ulang tahun ke‑250 Amerika Serikat, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan perubahan besar pada desain uang kertas dolar. Mulai musim panas 2026, tanda tangan Presiden Donald J. Trump akan muncul di mata uang resmi AS, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah negara tersebut.
Pengumuman itu disampaikan oleh pihak Departemen Keuangan pada Kamis (26/3/2026), ketika mereka mengungkapkan bahwa tanda tangan Trump akan dicetak bersama dengan tanda tangan Menteri Keuangan Scott Bessent pada uang kertas yang akan datang. Langkah ini sekaligus mengakhiri tradisi panjang selama 165 tahun di mana mata uang hanya memuat tanda tangan pejabat keuangan seperti Bendahara AS.
Menurut pernyataan resmi, kebijakan baru ini dimaksudkan sebagai bagian dari peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, yang menandai momen penting dalam sejarah bangsa. Departemen Keuangan menilai tidak ada cara yang lebih kuat untuk mengakui pencapaian historis sebuah negara besar selain melalui mata uangnya sendiri.
Akhiri Tradisi 165 Tahun
Selama bertahun‑tahun, uang kertas AS selalu memuat tanda tangan Bendahara dan Menteri Keuangan sebagai bagian dari standar desain. Tradisi ini telah berjalan sejak pertengahan abad ke‑19, dengan posisi Bendahara memiliki peran simbolis sekaligus administratif atas produksi uang kertas.
Namun, dengan perubahan kebijakan kali ini, tanda tangan Bendahara akan digantikan oleh presiden yang sedang menjabat. Ini berarti Trump akan menjadi presiden pertama yang pernah memiliki tanda tangannya pada uang kertas AS selama masa jabatan aktifnya, meskipun wajah presiden di uang masih tetap karakter tokoh sejarah yang sudah ditetapkan undang‑undang.
Mulai Cetak pada Juni 2026
Jadwal resmi Departemen Keuangan menyebutkan bahwa uang kertas pertama yang memuat tanda tangan Trump adalah pecahan 100 dollar AS, yang mulai dicetak pada Juni 2026. Setelah itu, cetakan pada pecahan lainnya akan menyusul dalam beberapa bulan berikutnya.
Sementara itu, uang dolar yang sekarang beredar masih memuat tanda tangan pejabat dari era pemerintahan sebelumnya, yaitu Menteri Keuangan Janet Yellen dan Bendahara Lynn Malerba. Ketika desain baru mulai beredar, catatan tanda tangan mereka akan tetap sah sebagai alat pembayaran.
Simbolisme dalam Mata Uang
Para pejabat pemerintah menegaskan bahwa perubahan ini tidak hanya soal estetika, tetapi juga simbolisme nasional di tengah perayaan besar. Bendahara AS saat ini menyatakan bahwa mata uang Amerika akan terus mewakili kekuatan, kemakmuran, dan semangat rakyat AS di dunia.
Pengamat melihat bahwa keputusan ini mencerminkan strategi pemerintahan Trump untuk memperkuat visibilitas nama dan simbol presidensial Trump dalam berbagai aspek kehidupan publik. Selain pencetakan tanda tangan di uang kertas, administrasi Trump sebelumnya juga mendukung pembuatan koin emas 24 karat bergambar Trump untuk merayakan 250 tahun kemerdekaan AS.
Reaksi Publik dan Kritik
Meskipun mendapat dukungan dari sebagian pihak pemerintahan, langkah ini tidak luput dari kritik, terutama dari politisi oposisi. Beberapa pihak menilai pencantuman tanda tangan Trump dalam mata uang sebagai bentuk politisasi simbol nasional, dan menolak gagasan bahwa satu figur politik saat ini harus muncul pada alat pembayaran yang digunakan seluruh rakyat. Kritikus menyoroti bahwa hal demikian bisa memicu perdebatan seputar peran simbol negara dan identitas independen dari pemerintahan tertentu.
Sebagian pengamat lain juga memperingatkan bahwa meskipun legalitas pencetakan tanda tangan presiden pada mata uang tidak bermasalah — karena undang‑undang tidak melarang tanda tangan sebagai elemen desain — langkah ini tetap dapat memunculkan kontroversi sosial dan politis di tengah masyarakat.
Makna Sejarah bagi Uang Dolar
Perubahan ini mencatatkan momen baru dalam sejarah ekonomi dan budaya Amerika. Selama hampir dua abad, dolar AS menjadi salah satu simbol stabilitas dan kekuatan ekonomi global — dengan desain yang relatif konsisten. Penambahan tanda tangan seorang presiden yang masih menjabat menjadi catatan tersendiri dalam evolusi visual uang kertas tersebut.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke‑250 kemerdekaan, kebijakan ini akan terus menjadi topik diskusi seputar bagaimana sebuah bangsa merepresentasikan nilai sejarahnya di tengah perubahan politik dan kebijakan.











