Jakarta, Duniaheadline – Mata uang Asia kompak bergerak di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat ( AS ) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2026). Tekanan terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang kembali mendorong permintaan aset safe haven.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.45 WIB, seluruh sebelas mata uang Asia yang menyatukan kompak melemah terhadap greenback.
Pelemahan terdalam terjadi pada baht Thailand yang turun 1,04% ke posisi THB 32,09/US$. Peso Filipina menyusul dengan melemahnya 1,14% ke level PHP 59,68/US$.
Tekanan juga terlihat pada won Korea Selatan yang terkoreksi 0,87% ke KRW 1.494,1/US$. Yen Jepang turun 0,55% ke JPY 158,65/US$, sementara dolar Taiwan melemah 0,54% ke TWD 31,98/US$ dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,53% ke MYR 3,96/US$.
Sementara itu, mata uang Garuda juga tak mampu menguat dari dolar AS. Rupiah tertekan dengan pelemahan 0,44% ke level Rp16.975/US$ atau semakin mendekati level psikologisnya di Rp17.000/US$.
Pelemahan juga terjadi pada rupee India yang turun 0,37% ke INR 92,27/US$, disusul dong Vietnam yang melemah 0,36% ke VND 26.287/US$. Yuan Tiongkok turun 0,32% menjadi CNY 6,91/US$, sedangkan dolar Singapura melemah 0,3% menjadi SGD 1,28/US$.
Pelemahan Mata Uang Asia Terhadap Dolar AS (%)

Arah pergerakan tersebut sejalan dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang pada saat itu sama naik 0,63% ke level 99,610. Penguatan DXY mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap dolar AS, yang pada akhirnya menekan mayoritas mata uang lainnya, termasuk mata uang Asia.
Sentimen utama datang dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pelaku pasar kembali memburu dolar AS karena posisinya sebagai safe haven sekaligus negara pengekspor energi, ketika harga minyak menimbulkan kekhawatiran tekanan inflasi global akan kembali meningkat. Kondisi tersebut juga membuat pasar saham Asia tertekan dan mendorong investor memilih aset yang lebih likuid.

Pasar juga mempertemukan dinamika politik di Iran setelah Teheran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Langkah ini dinilai menegaskan kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran, di tengah konflik yang telah memasuki pekan kedua dengan AS dan Israel.
Situasi ini diperkirakan tidak akan disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan figur tersebut “tidak dapat diterima”.
Dengan belum adanya tanda gencatan senjata dan kapal tanker yang masih enggan melintas di Selat Hormuz, investor bersiap menghadapi periode biaya energi yang lebih tinggi. Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting bagi pasokan minyak dan gas dunia, sehingga gangguan berisiko tinggi menekan pertumbuhan ekonomi global sekaligus mengerek inflasi.
Kondisi ini menjadi pemicu pasar kembali melirik dolar AS sebagai aset aman. Pada gilirannya, penguatan dolar AS membuat mata uang negara lain berada di zona pelemahan, tak terkecuali mata uang Asia, pada perdagangan pagi ini.











